Back to news

NEWS
,
September 10, 2015

Musisi Indonesia dan Lee Cooper

Edited by Lee Cooper Indonesia

Sejak re-branding diinisiasikan oleh Harold Cooper, sepak terjang Lee Cooper sebagai salah satu produsen denim dan busana kasual tertua di dunia tidak pernah terlepas dari youth culture. Salah satu bagian dari youth culture yang selalu melekat dengan Lee Cooper adalah musik. Diawali dengan kerjasama yang terjalin antara Lee Cooper dan band rock Rolling Stone di tahun 1960-an, Lee Cooper berturut-turut menggandeng deretan musisi yang digilai anak muda saat itu, semisal Sex Pistols, Rod Stewart, UB 40, dan Serge Gainsbourg. Simbiosis dengan dunia musik mengantarkan Lee Cooper pada posisi penting dalam dunia mode, jeans bergaya hipster dengan model ketat untuk pertama kalinya sukses secara cepat di pasar Eropa. Representasi ini semakin menguatkan imej Lee Cooper yang identik dengan dunia musik.

Di Indonesia, nama Lee Cooper telah sangat akrab ditelinga para musisi. Sebabnya tidak hanya karena banyaknya acara musik yang menjalin kerjasama dengan Lee Cooper, namun jalinan kerjasama langsung yang dilakukan Lee Cooper dengan para musisi. Menariknya, jika brand fashion lain mungkin akan lebih tertarik dengan musisi dari record label besar, Lee Cooper justru banyak melebarkan peluang dan bekerjasama dengan musisi-musisi dari scene musik indie Indonesia. Musik indie sebenarnya bukan suatu aliran atau genre musik. Kata “indie” berasal dari “Independent” atau berdiri sendiri, bebas, dan tidak bergantung. Musisi yang memilih jalur musik indie tidak mengandalkan pasar musik mainstream dan major record label dalam berkarya. Mereka cenderung untuk melakukannya DIY (Do It Yourself) mulai dari menciptakan, merekam dan mendistribusikan musik mereka.

Sorotan pertama terhadap musik indie dibawa Lee Cooper pada tahun 2011 silam, kala itu Lee Cooper memboyong tema “Vanity in The UK” dalam rangkaian koleksi autumn/winter 2011. Meskipun potongan ide musik indie yang diusung adalah musik indie eksis di Inggris, namun mozaik ide ini menjadi angin segar tersendiri karena belum banyak brand fashion mass production yang berani mengeksplorasi scene musik indie. Selang dua tahun kemudian, Lee Cooper memberi gebrakan baru dengan memperkenalkan Raden Farri Icksan Wibisana atau yang lebih dikenal dengan nama Farri The S.I.G.I.T sebagai salah satu “The Makers” pada kampanye “Lee Cooper Indonesian Makers”. Farri yang tidak lain adalah gitaris band hard rock/garage rock asal Bandung The S.I.G.I.T yang bergerak di jalur musik indie.

 

Sambutan hangat dan komentar positif yang terus berdatangan membuat Lee Cooper kembali menunjuk musisi indie, pada kampanye “The Makers” selanjutnya, nama Ken Jennie dari band Jirapah yang didapuk sebagai penerus Farri The S.I.G.I.T.

 

Tidak hanya berhenti pada kampanye “The Makers”, dukungan Lee Cooper terhadap musisi-musisi indie di Indonesia ditunjukkan melalui kerjasama dalam berbagai kesempatan. Sebut saja nama band indie Banda Neira, Efek Rumah Kaca, Monkey to Millionaire, Mocca, hingga Payung Teduh yang mendapat dukungan penuh dari Lee Cooper sebagai penyedia wardrobe untuk aksi panggung mereka.

 

 

Sementara itu nama-nama musisi jalur indie lainnya yang juga akrab dengan outfit persembahan Lee Cooper antara lain Andezz, Petra Sihombing, Nugie, dan Reno Pratama.

 

 

 

 

 

So, apakah musisi favorit LC Friends sudah ada di daftar ini?