Kapan terakhir kali kamu ambil waktu untuk menghargai betapa kerennya mahkluk hidup bernama ‘pohon’?  Sewaktu kecil saya punya mimpi suatu hari akan tinggal di rumah pohon , lalu di bangku sekolah belajar mengenai ‘fotosintesa’, yang terlepas dari bunyi ilmiahnya ternyata fungsinya penting bagi kehidupan semua makhluk lain di bumi--- mencegah erosi, mengatur kestabilan ekosistem, dan  sebagai sumber energi dan peneduh.

Tidak ada yang bisa memungkiri ketenangan, keteduhan  dan (setidaknya untuk saya) kebahagiaan yang dirasakan saat berada dekat bertetangga dengan pepohonan besar. Lupa rasanya bagaimana? Nah ini dia permasalahan anak muda zaman sekarang yang punya ribuan distractions sehingga lupa merayakan nature’s gifts  yang ada di sekitar kita.

Kita semua pasti pernah mendengar konsep tree of life yang digunakan dalam ilmu pengetahuan, agama, filosofi dan mitologi. Konsep ini menggambarkan saling terhubungnya semua kehidupan di bumi dan menjadi metafora akan evolusi kehidupan manusia. Dalam teks-teks kuno dan cerita-cerita rakyat, pohon diasosiasikan dengan pemberi kehidupan, kebaikan, penyembuhan, perlindungan, kekuatan dan keterhubungan. Hal ini berdasarkan akumulasi ribuan tahun pengetahuan dan kepercayaan manusia, mengapa saat ini kita tidak merayakan pohon sedemikian rupa?

Kita semua sebenarnya sudah menyadari tentang kerusakan yang ditimbulkan manusia terhadap hutan dan alam. Sayangnya kita merasa kita dapat merusak tanpa batas. Pernah suatu saat saya bermimpi tentang pohon-pohon yang bermutasi dan bisa membalas segala kejahatan manusia yang dilakukan padanya. Bagaimana saya tidak tertawa ketika menemukan baris ini dalam serial Harry Potter (yes I read all 8 books):

“Of all the trees we could've hit, we had to get one that hits back.”

u2015J.K. Rowling, Harry Potter and the Chamber of Secrets

Thank God trees don’t hit back, even though we deserve it. Contohlah kebijaksanaan pohon yang dalam kesederhanaanya senantiasa melindungi dan memberi. Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna seharusnya menjadi pelindung utama makhluk hidup lain.

Dalam kekaguman terhadap sosok pohon, sampailah saya kepada pengenalan mengenai spesies-spesies tertentu. Penelusuran saya dimulai dari kampung halaman metropolitan Jakarta. Ibukota kita yang lebih dikenal sebagai hutan beton ini ternyata memiliki love affair dengan pohon di masa lampau.

 Tahukah kamu bahwa 80% dari nama wilayah di Jakarta dinamai berdasarkan vegetasi (terutama jenis pepohonan) yang banyak ditemukan di lokasi tersebut?[1] Sebut saja Kemang, Bintaro, Gandaria, Menteng, Gambir, Cempaka Putih --- yup semua adalah nama pohon. Demikian juga dengan Condet (sejenis pohon buah buni), Kebayoran (pohon bayur sejenis jati), Kedoya (suku duku-dukuan), Kemanggisan (pohon buah manggis).

Oleh sebab dalam bayangan saya Kemang Village seharusnya adalah sebuah dusun penuh dengan pohon Kemang dan Gandaria City adalah pusat pohon Gandaria. Ironisninya mereka adalah lagi-lagi mal. Mau ironisme yang lebih mendalam? Berdasarkan survey komunitas Peta Hijau Jakarta, hanya tinggal tersisa 1 (satu) pohon Menteng di Menteng, Jakarta Pusat dan 4 (empat) pohon Kemang di Kemang, Jakarta Selatan.[2] Nama nyaris hanya tinggalah nama. Kondisi ini berpotensi terjadi di kota-kota lain.

Jadi lain kali ikut kampanye menanam pohon, boleh loh sedikit kritis dan menanyakan apakah spesies tersebut merupakan spesies endemik? Mohon maaf untuk kampanye penanaman seribu, sejuta, semilyar pohon-- generalisasi spesies pepohonan bukanlah pendekatan yang tepat apalagi jika spesies yang ditanam adalah spesies asing yang belum melalui kajian dampak (ehemmmm *batuk Trembesi*batuk Amerika Selatan).

Jika secara sukarela ingin menanam pohon, pilihan terbaik adalah jenis yang memang lokal terhadap daerah kamu, jadikanlah ia prioritas sebagai tetanggamu. Terutama untuk daerah perkotaan, saya rasa penting untuk mengembalikan identitas daerah dengan re-introduksi pohon-pohon penghuni aslinya. Great, this will be my next program, anyone join me? Selamat Hari Menanam Pohon!

Penulis: Nadine Zamira @NayNadine adalah Executive Director dari LeafPluswww.leaf-plus.com, konsultan komunikasi lingkungan (CSR&Cause Marketing, Environmental Education, PR&Communication). Nadine juga seorang Miss Indonesia Earth 2009. Project-project yang sedang ditangani saat ini antara lain adalah HiddenPark (program pengaktifan taman kota) dan PhalaPusaka (program konservasi pohon lokal bantaran Ciliwung).