Jika hanya melihat sekilas, Ken mungkin akan membuat kita salah presepsi. Ia terlihat begitu tenang dan cenderung misterius dibalik penampilannya yang sederhana. Kacamata dengan frame besar yang membingkai wajahnya pun memperdalam kesan pendiam dan introvert. Namun hal ini terpatahkan bila mengenal sosoknya lebih dalam. Dibalik penampilannya terkesan begitu tenang, cowok bernama lengkap Ken Yudistira Jenie merupakan pribadi sangat menarik dan teman bercerita yang menyenangkan. Sempat menetap selama 20 tahun di Negeri Paman Sam sebelum kembali ke Indonesia dua tahun lalu, Ken memiliki banyak cerita tentang aktivitasnya sebagai editor sekaligus musisi juga tentang kenangan akan kota-kota yang pernah jadi tempatnya berdomisili serta tentang Campaign The Makers yang sedang ia jalani.

u00a0

Ken, Musik dan Jirapah

Ken masih ingat betul kisah perkenalannya dengan musik. Ayahnya yang sangat menggemari musik era 60 dan 70an membuat Ken terbiasa mendengarkan lagu-lagu milik The Beatles hingga The Who yang mengalun dari pemutar plat milik sang Ayah. Namun tak hanya musik band termasyur era 60 dan 70an saja yang akrab di telinga Ken, ia juga menyimpan kenangan tersendiri akan lagu anak-anak karangan Pak Kasur dan Ibu Soed. Ken kecil yang hapal diluar kepala lagu anak-anak semisal u201cNaik Delmanu201d, sering membuat rekaman suaranya dan sang Kakak menggunakan tape recorder kecil yang ada di rumahnya. Hasil rekaman tape recorder kesayangan kemudian jadi koleksi pribadi Ken yang sempat tersimpan rapi sebelum terselip dan hilang entah kemana.

u00a0

Musik adalah sesuatu yang menyenangkan, hal inilah yang sangat dipercayai Ken. Ia tidak ingin musik jadi terlalu serius dan kemudian ia sulit untuk menikmatinya lagi. Prinsip inilah yang selalu ia terapkan ketika bermusik termasuk saat ia membentuk band rock indienya, Jirapah, Ken selalu enggan mengatakan bila Jirapah menunjukkan keseriusannya dalam bermusik.


u201cJujur, sampai sekarang saya masih susah untuk bilang Jirapah serius karena saya nggak ingin anggap ini terlalu serius, hanya lebih fokus saja. Mungkin ini agak aneh, tapi saya ingin musik tetap menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan dan ekspresif jadi jangan sampai musik menjadi suatu kerjaan yang harus dipusinginu201d, tutur Ken dengan mimik serius.


Musik berorientasi aktivitas menyenangkan, membawa Ken ke dalam kepuasan bermusik bersama Jirapah. Namun keterbatasan dana membuat Jirapah lebih memilih untuk merilis lagu-lagu mereka dalam format free download di internet. Menurut Ken, internet merupakan media yang powerful untuk berbagi musik dan memperkenalkan Jirapah pada pendengar musik di Indonesia bahkan seluruh dunia. Meski demikian, dalam waktu dekat Ken bercerita bahwa Jirapah akan segera memiliki rilisan fisik dalam format plat 7 inch untuk dua single teranyarnya. u201cPlat itu medium yang sangat physical dan sangat besar. Musik dari plat lebih bisa dirasakan oleh pendengarnya dan saya juga suka plat karena artwork nya bisa lebih besar dari CD, kaset atau MP3. Bagi saya mendengar musik dari plat adalah salah satu cara mendengarkan musik yang sangat menyenangkan danu00a0 berkesan. Jadi saat ada label yang menawarkan untuk merilis single Jirapah dalam bentuk fisik, why not?u201d, terang penggemar grup band Yura Yura Teikoku ini.


Ken dan Whiteboard Journal

Selain disibukkan dengan band bentukkannya, saat ini Ken juga tercatat memiliki aktivitas lain sebagai editor WhiteboardJournal.com, sebuah media online berbahasa Inggris yang berisi seputar gaya hidup. Walaupun terkesan sangat berbeda dengan dunia musik yang ia gemari, Ken mengungkapkan jika keterlibatannya di WhiteboardJournal adalah pengalaman yang tak kalah menyenangkannya,
u201cDi WhiteboardJournal saya tidak hanya sebagai editor yang tugasnya membaca dan menyunting tulisan, tapi saya juga turun ke lapangan, bikin video, bikin animasi, saya mengerjakan apa yang ingin saya lakukan dan kesempatan-kesempatan untuk melakukan apa yang ingin saya kerjakan itu datangnya di WhiteboardJournal. Saya juga bisa membagi minat saya ke pembaca Whiteboard Journal karena WhiteboardJournal berisi hal-hal yang sebenarnya menarik untuk saya dan teman-teman redaksi lainnya. So interesting! And Iu2019m enjoy!u201d.


Dunia jurnalistik pun sebenarnya bukan hal yang asing bagi Ken. Saat menempuh perguruan tinggi di Queens College, Ken telah mendalami ilmu jurnalistik untuk strata satu dan tidak lama kemudian ia kembali melanjutkan pendidikan strata dua dalam bidang media editing fine arts di New York Institute of Technology.


u201cMedia itu medium yang sangatpowerful untuk membentuk atau bisa membentuk opini massa. Thatu2019s amazing! So much influence for much people. Media itu medium yang sangat menarik. Kamu bisa berkarya disana, berbisnis disana tapi kamu juga bisa mempergunakannya untuk kejahatanu201d , tambah Ken bersemangat.

u00a0

Ken, New York dan Jakarta

Pekerjaan Ayahnya sebagai Diplomat mengurai cerita menarik lainnya dalam hidup Ken. Berpindah-pindah tempat tinggal dari satu negara ke negara lain bukan hal yang aneh bagi Ken dan keluarganya. Dilahirkan di Jakarta, 6 Desember 1981, Ken hanya sempat menghabiskan waktunya beberapa tahun saja di Ibukota sebelum mengikuti tugas Ayahnya ke Swiss, Portugal dan kemudian menetap untuk waktu yang sangat lama di New York, Amerika Serikat.


Menetap selama lebih dari duapuluh tahun di New York membuat Ken memiliki banyak kenangan akan kota ini. Ada begitu banyak masa-masa penting yang ia lalui di New York. Kelulusan Sekolah Dasar, masa-masa Sekolah Menengah Atas dan perkuliahan, pengalaman pertama bekerja hingga pacar pertama, Ken alami saat ia tinggal di New York. Cikal bakal band Jirapah dan keterlibatannya dengan WhiteboardJournal pun memiliki kaitan yang erat dengan kota satu ini. Sambil sesekali tertawa kecil Ken menceritakan, u201cSaya bertemu Mar, salah satu anggota awal Jirapah sekaligus pacar saya sekarang di New York dan WhiteboardJournal awalnya adalah project Max, teman saya selama berkuliah di New York dulu. New York sangat berkesan untuk saya tapi semua kota-kota di negara lain yang pernah saya tinggali juga berkesan. Saya merasa sangat beruntung pernah punya kesempatan tinggal di beberapa negara karena dari sana saya memiliki banyak sekali wawasan baru dan mengenal budaya-budaya baruu201d.

Namun tak hanya New York yang selalu terkenang oleh cowok berpostur tinggi ini, kota kelahirannya, Jakarta, juga mempunyai kenangan tersendiri bagi Ken. Uniknya, salah satu hal yang paling ia ingat dan dirindukan dari Jakarta adalah suara Adzan. u201cSaat saya masih kecil disini, saya terbiasa mendengar suara adzan, suara adzan sudah jadi bagian dari kehidupan kita. Setiap neighborhood disini pasti punya Masjid atau Mushola satu sampai dua. Setiap Magrib atau Subuh kita terbiasa mendengar suara Adzan, sementara di Amerika tidak seperti itu. Memang sangat sederhana tapi ngangeninu201d, Ken terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan nostalgia masa lalunya, u201cTapi saya juga sering kangen masakan Indonesia. Saya kangen jeroan dan sop kambing hahaha. Saya juga kangen dengan teman-teman disini, saat SMA saya sebenarnya sempat pulang selama satu tahun ke Jakarta, saat itu saya sering kumpul dan main skateboard dan roller dengan teman-teman di daerah Senayan. Saya lumayan kangen dengan teman-teman saya ituu201d, sambung Ken kemudian.

u00a0

Ken dan The Makers Campaign

Mengenal lebih dalam Ken kita akan mengenalnya sebagai anak muda dengan kehidupan yang sangat menarik. Kecintaannya pada musik, aktivitasnya sebagai editor di WhiteboardJournal dan pengalaman hidupnya di beberapa kota besar di dunia menjadi cerita yang tidak bisa dilupakan dari sosok Ken. Dan yang tak kalah menariknya saat, cowok yang suka membaca buku-buku fiksi saat senggang ini adalah sosok baru dalam Campaign The Makers Lee Cooper Indonesia.

u00a0

Ken yang lebih senang mendeskripsikan gaya berpakaiannya dengan u201cCasual Styleu201d mengaku sempat mempertimbangkan beberapa hal sebelum menerima tawaran sebagai bagian dari Campaign The Makers. u201cSuatu hari saya ditawarkan oleh Lee Cooper untuk menjadi bagian dari The Makers di Indonesia. Setelah itu saya segera mencari tahu tentang campaign ini dan Lee Cooper pun menjelaskannya pada saya. Dari sana saya tahu banyak tentang bagaimana promonya, direction art-nya, sampai produk-produk Lee Cooper seperti apa. Saya juga diyakini oleh Lee Cooper kalau para u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0u00a0The Makers akan di take care dan tidak akan asal dalam campaignnya karena ingin ada suatu integritas dan value dari The Makers Campaign. Bagi saya itu sangat menarik dan saya setujuu201d,
u201cSaya juga sudah mencoba beberapa produk Lee Cooper dan saya suka. Koleksi Lee Cooper itu nyaman dan sesuai dengan gaya berpakaian saya, harganya juga reasonable u201d, lanjut Ken sesaat kemudian.

u00a0
Hal lain yang membuat Lee Cooper semakin menarik di mata Ken adalah ketika ia tengah melakukan riset kecil-kecilan tentang Lee Cooper dan menemukan fakta bahwa Lee Cooper pernah bekerjasama serta mengendorse salah satu musisi sekaligus seniman Perancis favoritnya, Serch Kingsberg. Bagi Ken tidak ada alasan untuk menolak tawaran Lee Cooper sebagai bagian dari The Makers Campaign for Autumn/Winter Collection 2013.