Sudah hampir seminggu berlalu, seluruh masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69 tahun. Semua lapisan masyarakat merayakannya dengan cara yang berbeda-beda. Mulai dari mengadakan acara hiburan rakyat hingga melakukan do'a bersama, mengheningkan cipta untuk kebangkitan Bangsa yang sudah cukup lama "terlelap".

Merdeka! Itu kata yang selalu diteriakkan para pejuang pada masa-masa penjajahan dulu. Perjuangan mereka yang tak kenal lelah berakhir tidak sia-sia. Tanggal 17 Agustus 1945, Sang Proklamator Ir. Soekarno mengumandangkan Proklamasi. Tanda Kemerdekaan. Pernyataan sebuah hak untuk dapat menikmati hidup seutuhnya. Teriakan untuk kembali merasakan "udara" kebebasan yang lama dirampas para penjajah.

Kini negara kita sudah 69 tahun merdeka. Tapi apakah benar kita sudah merdeka? Sudahkah kita benar-benar merasakan kebebasan yang hakiki? Kemerdekaan adalah kebebasan. Kebebasan setiap individu untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera tanpa mengganggu hak orang lain.

Namun menurut saya pribadi, saat ini Masyarakat Indonesia belum merasakan kemerdekaan secara utuh. Masih banyak saudara-saudara kita yang dalam hidupnya, merasakan susahnya mencari lapangan pekerjaan. Bahkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mendasar pun masih jauh dari kata layak.

Diluar itu, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membangun negara ini menjadi lebih baik. Kita bisa memulainya dari hal kecil saja. Misalnya, dimulai dari lingkungan tempat tinggal kita. Sebagai anak muda, kita bisa memaksimalkan peran “Karang Taruna” yang saat ini sudah tidak pernah terdengar lagi gaungnya untuk melakukan kegiatan positif dan bermanfaat untuk masyarakat. Dengan begitu, pemuda di negara ini akan lebih aktif berkegiatan positif dan pada akhirnya akan menghasilkan lingkungan yang positif juga.

Selain itu, dari diri sendiri, melakukan kegiatan berolahraga sangatlah membantu diri kita untuk tetap berpikir positif dan jernih. Masih ingat dengan ungkapan   "Men sana in corpore sano?". Yup, didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Selalu sempatkan waktu LC Friends sekitar 10-15 menit perhari untuk berolah raga sebelum melakukan aktifitas. Cukup melakukan olah raga ringan seperti sit-up, push-up dan jogging sudah bisa menjaga kebugaran tubuh kita. 

Berbicara tentang olahraga, saya menyukai olah raga Pencak Silat dan karena kegiatan yang saya geluti dari kecil inilah memberikan kesempatan untuk bepergian keliling dunia. Ya, karena olahraga Pencak Silat inilah saya bisa memperkenalkan kebudayaan asli dan turut mengharumkan nama Indonesia di hadapan masyarakat Inggris, Rusia, Laos, Kamboja, Perancis dan negara lainnya. Selain itu, karena pencak silat juga saya mempunyai kesempatan untuk memainkan peran utama di film-film laga dan meraih penghargaan bertaraf internasional.

Berbekal dari pengalaman dalam Pencak Silat, saya berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang kita niatkan untuk sesuatu yang positif, pasti hasilnya juga akan positif. Mungkin itu juga yang menjadi penyulut semangat para pejuang kemerdekaan Indonesia ketika zaman penjajahan dahulu,  optimis tanpa mengenal kata menyerah memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Didasari niat baik untuk mengembalikan hak kebebasan manusia, maka lahirlah sebuah negara Republik Indonesia tercinta ini.

LC Friends, sebagai generasi muda, dipundak kita lah nasib bangsa ini akan ditentukan. Di darah kita mengalir nama tanah air Indonesia. Sekarang saatnya kita mengubah semua ke-pesimisan menjadi sebuah niat yang positif untuk Negara kita supaya negeri ini menjadi lebih terpandang di mata dunia.

Semoga tulisan sederhana saya juga bisa menebarkan inspirasi positif untuk LC Friends semua. 

 

Penulis adalah Uwais Qorny atau lebih dikenal dengan nama Iko Uwais (@iko_uwais), seorang aktor, koreografer film dan atlet pencak silat Indonesia. Ia memulai debutnya di dunia perfilman saat menjadi pemeran utama dalam film "Merantau" tahun 2009. Film lain yang dibintanginya berjudul "The Raid", "The Raid 2: Berandal" dan "Man of Tai Chi" berhasil membuat Pencak Silat semakin dikenal di kancah Internasional. Dalam penggarapan Film "The Raid", Iko juga berperan sebagai koreografer. Iko pernah meraih penghargaan sebagai Penampilan Terbaik Kategori Dewasa Tunggal pada Festival Pencak Silat Cibubur 2005.